Tajuk Rencana : "Mismatch " Pendidikan di Indonesia
Source : Kompas, 16 Februari 2008
Mismatch, dalam arti tidak ber
temunya dunia kerja dan dunia
pendidikan, lama diwacanakan.
Perbaikan dilakukan antara lain
lewat pembenahan kurikulum.
Juga sudah berbagi informasi, dan belajar-mengajar yang membangun semangat kewirausahaan. Lonjakan jumlah sarjana menganggur dari 183.629 orang tahun 2006 menjadi 409.890 orang tahun 2007, ditambah dari program diploma I, II, III, total penganggur hingga Februari 2007 mencapai 740.206 orang, menunjukkan masalah mismatch sebagai masalah serius.
Asosiasi Pengusaha Indonesia menyebutkan 60 persen dari 11,6 juta penganggur di Indonesia pada tahun 2007 berusia di bawah 25 tahun. Jumlah angkatan muda yang menganggur di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah di negara-negara tetangga, seperti Malaysia 11 persen dan Filipina 16 persen.
Mismatch dunia pendidikan dan dunia kerja sudah biasa. Dunia pendidikan tidak mungkin bisa mengejar. Dunia pendidikan, meskipun bukan satu-satunya tujuan dan hasil, adalah abdi (ancilla) dunia kerja. Praktis pendidikan sudah seharusnya memenuhi tuntutan dunia kerja, jumlah tenaga maupun persyaratan keterampilan/kompetensi.
Bertemunya (match) dunia kerja dan dunia pendidikan pernah ditegaskan sebagai kebijaksanaan Depdiknas era Menteri Wardiman Djojoncgoro. Link and match yang diterjemahkan sebagai tanggem begitu ditekankan sampai ada kritik lembaga pendidikan tidak lebih dari bengkel kerja ala Dewey.
Kecilnya anggaran sering menjadi sebab utama. Praktis pendidikan belum dilihat sebagai investasi manusia. Anggaran pendidikan sesuai amanat undang-undang dipenuhi dengan cara diencrit-encrit. Walaupun pemenuhan dana 20 persen menuntut birokrasi andal, yang belum bisa dipenuhi birokrasi Depdiknas saat ini.
Laporan PBB Mei 2007 menyebutkan tingkat pengangguran di Indonesia tertinggi di antara ncgara-negara ASEAN. Sementara tahun 2000-2006 tingkat pengangguran di sebagian besar negara ASEAN stabil bahkan menurun, sebaliknya Indonesia naik dari 6 persen menjadi 10,4 persen.
Data tersebut, yang berujung pada semakin menganganya jurang mismatch, mengharuskan perubahan paradigma dan praktis, yakni praktis pendidikan yang tidak meninggalkan pembinaan karakter, pengembangan keterampilan dan kompetensi, jenis dan jumlah yang dibutuhkan dunia kerja.
Pengembangan jiwa wiraswasta yang dirasakan kurang terbina—hakikatnya adalah pembinaan karakter dan berarti satu perubahan kultur—menjadi pilihan yang perlu diambil segera. Tujuannya agar jurang mismatch tidak semakin menganga. Juga, berbagi informasi dan kerja sama lebih profesional dunia kerja dan dunia pendidikan. Dengan demikian, visi Indonesia 2030 yang menempatkan pendidikan sebagai "pintu masuk" bukan mimpi kosong " beneran".
|