|
Jangan Ragu Pilih Diploma
Source : Kompas, 29 April 2008
Kondisi ekonomi bangsa yang memburuk berdampak pada menyempitnya lowongan pekerjaan di kantor.
Tidak mudah lagi kesarjanaan menjadi ukuran
keberhasilan seseorang pada masa depan.
Pada masa lalu, kerap jadi bahan omongan,
sarj ana bisa membuat masa depan cerah
(madecer). Sebaliknya Jika tidak sarjana, masa
depan pun suram (madesu).
Tentu saja hal itu setidaknya bisa ditangkap sebabagai omongan pemberi semangat agar setiap orang mau menempuh pendidikan hingga jenjang lebih tinggi. Hanya saja, kalau dilihat saat ini, gelar sarjana tidak selalu menjamin langkah mulus.
Data Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur (Jatim) tahun 2005 menunjukkan, jumlah penganggur bergelar sarjana di Jatim empat kali lipat lebih besar daripada yang bergelar diploma atau pendidikan akademi.
Dari 1,9 juta penganggur di Jatim, sebanyak 77.050 penganggur bergelar sarjana. Adapun jumlah penganggur yang bergelar diploma jauh lebih kecil, yakni 18.074 orang.
Memang dua gelar itu punya perbedaan. Menurut Ketua Dewan Pendidikan Jatim Zainuddin Maliki, lulusan bergelar diploma dipersiapkan sebagai tenaga siap kerja, sementara sarjana lebih dipersiapkan untuk analisis dan perancangan. "Gelar diploma atau pendidikan vokasional telah dipersiapkan dengan keterampilan, maka lebih banyak diserap lapangan kerja saat ini," kata Zainuddin di Surabaya,Sabtu(26/4).
Menurut Zainuddin, saat ini tenaga kerja dari pendidikan vokasional seperti diploma, akademi, atau politeknik lebih banyak diperlukan daripada sarjana. Pasalnya, pendidikan vokasional membekali lulusan dengan keterampilan praktis.
Selain itu, lulusan pendidikan vokasional juga mempunyai kesempatan luas untuk berwirausaha. "Ini karena 75 persennya adalah praktik, sementara untuk sarjana kebalikannya, 70 persen teori," katanya.
Idealnya, kata Zainuddin, hanya 20 persen lulusan sekolah menengah atas yang meneruskan program sarjana. Mereka adalah pelajar dengan nilai akademik sangat bagus, minimal delapan pada mata pelajaran yang berkaitan dengan bidang yang ingin ditekuni di universitas.
"Kondisi ekonomi bangsa yang memburuk berdampak pada menyempitnya lowongan pekerjaan di kantor. Saat ini pendidikan vokasional lebih realistis sebagai bekal hidup, terutama bagi pelajar yang tidak terlalu kuat di bidang akademi" kata Zainuddin.
Gengsi
Masalhnya, masyarakat masih memandang sarjana sebagai gengsi. Hal itu tampak dari tren yang salah dalam pendidikan di Indonesia. Lulusan diploma justru melanjutkan memperoleh gelar sarjana dengan menambah sistem kredit semester mereka. "Padahal, konsep pendidikan keduanya sangat berbeda," kata Wakil Rektor Universitas Katolik Widya Mandala (UWM) Bidang Akademi dan Kemahasiswaan Kuncoro Foe.
Menurut Kuncoro, dalam dunia kerja berlaku prinsip piramida. Semakin tinggi tingkat jabatan, jumlah yang dibutuhkan semakin mengerucut atau semakin sedikit. Jadi, jumlah tenaga terampil jauh lebih banyak dibutuhkan daripada analis dan perancang.
Selain nilai akademik, pertimbangan lain yang perlu menjadi pertimbangan pelajar untuk menentukan pilihan jenjang pendidikan adalah pertimbangan kemampuan ekonomi, bakat, dan prospek pada masa depan. "Tidak semua orang diberkahi dengan kemampuan analisis tinggi, jadi jangan memaksakan diri," katanya.
Ditilik dari sisi ekonomi, pendidikan vokasional lebih murah daripada pendidikan sarjana. Hal itu karena masa pendidikan yang lebih pendek daripada menempu gelar sarjana. Di UWM, misalnya, untuk meraih gelar sarjana diperlukan dana setidaknya Rp 40 juta, sementara untuk D-3 sekitar Rp 24 juta.
Di Jatim, pilihan untuk pendidikan diploma tidaklah sulit. Pilihannya cukup banyak, yaitu sekitar 229 perguruan tinggi yang meliputi 138 sekolah tinggi, 78 akademi, dan 13 politeknik. Dari jumlah itu, 56 di antaranya di Surabaya.
"Pendidikan sarjana atau vokasional bukan soal gengsi, namun soal kemampuan dan prospek dalam dunia kerja. Jadi jangan ragu atau gengsi masuk pendidikan vokasional," Kata Kuncoro
|